Senin, 28 Maret 2016

Makalah Perkembangan Teater Nusantara


Perkembangan Teater Tradisional Nusantara di Indonesia






·    Nama :  Sheyla Ulfah Hansya
      Kelas   : XI MIA 4









BAB 1
Pendahuluan
1.1            Latar Belakang Masalah
Seni Teater merupakan bentuk pertunjukan drama atau sandiwara yang menitik beratkan pada pemeranan. Di Indonesia bentuk seni teater banyak macamnya,disetiap daerah dapat kita jumpai seni teater yang tidak kalah dengan seni teater luar negeri. Jenis seni pertunjukan ini bersifat kolektif, kompleks, rumit, dan sangat akrab dengan publiknya,yaitu masyarakat seni teater,sebagai seni pertunjukan.

1.2            Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas,dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.     Bagaimana perkembangan teater tradisional di Nusantara?
2.     Apa saja teater yang berasal dari Nusantara?
3.     Bagaimana perbedaan teater setiap daerah di Nusantara?







BAB 2
Pembahasan
2.1      Perkembangan Teater di Indonesia
Istilah teater berasal dari bahasa Yunani kuno theatron artinya gedung atau panggung tempat pertunjukkan aksian, perbuatan, gerakan, lakuan atau tindakan. Pengertian ini berlaku pada zaman Tyucidides (1471-295 SM) dan Plato (428-348 SM). Pada perkembangan lebih lanjut, teater merujuk kepada audotorium tempat publik berkumpul. Pengertian ini berlaku pada zaman Herodotus (290-424 SM). Hingga ini bekas reruntuhan gudang teater yang megah pada zaman dahulu kala masih dapat dilihat sebagai objek wisata di Yunani dan Romawi.
Tradisi teater sudah ada sejak dulu dalam masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti dengan sudah adanya teater tradisional di seluruh wilayah tanah air.
Fungsi teater pada saat itu adalah sebagai:
1.    Pemanggil kekuatan gaib,
2.    Menjemput roh pelindung untuk hadir di tempat pertunjukan,
3.    Memanggil roh baik untuk mengusir roh jahat,
4.    Peringatan nenek moyang dengan mempertontonkan kegagahan/kepahlawanan,
5.    Pelengkap upacara sehubungan dengan peringatan tingkat hidup seseorang, dan
6.    Pelengkap upacara untukk saat tertentu dalam siklus waktu.

2.1.1  Teater Tradisional
       Teater Tradisional adalah bentuk pertunjukan seni dimana pesertanya berasal dari daerah setempat karena terkondisi dengan adat istiadat setempat, sosial masyarakat dan struktur geografis masing-masing daerah.

Kata tradisi berasal dari kata dalam bahasa Inggris "tradition", yang berarti buah pikiran, kepercayaan, adat-istiadat, atau pandangan hidup yang diturunkan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisional adalah ; bentuk tontonan yang diwariskan oleh nenek moyang secara turun-temurun kepada generasi berikutnya. Dramawan atau orang-orang yang bermain drama secara alami berupaya untuk mengaktualisasikan teater tradisional itu dengan konsep-konsep masa kini atau modern, hal itu dilakukan agar tontonan yang ditampilkan lebih mudah diterima oleh para penontonnya.

2.1.2 Ciri Khas Teater Nusantara

1. Cerita tanpa naskah dan digarap berdasarkan peristiwa sejarah, dongeng, mitologi, atau kehidupan sehari-hari. 
2.  Pementasan di panggung terbuka, lapangan maupun halaman rumah. Pementasannya sederhana dan apa adanya. 
3. Penyajian dengan dialog, tarian, dan nyanyian Ceritanya berdasarkan dongeng dan sudah turun temurun
4.  Unsur lawakan selalu muncul 
5.  Nilai dan laku dramatik dilakukan secara spontan dan dalam satu adegan terdapat dua unsur emosi sekaligus yaitu tertawa dan menangis.
6. Pertunjukan mempergunakan tetabuhan atau musik tradisional .
8.  Penonton mengikuti pertunjukan secara santai dan akrab bahkan terlibat dalam pertunjukan dan berdialog langsung dengan pemain.
9.  Mempergunakan bahasa daerah. 
10.  Tempat Pertunjukan terbuka dalam bentuk arena (dikelilingi penonton)
                                                           
2.1.3  Contoh teater tradisional beserta daerah asalnya           :
1. Lenong (Teater tradisional nusantara dari Betawi)
Ada dua bentuk Lenong   :
 1. Denes
            Tontonan Lenong Denes lakonnya tentang raja-raja dan pangeran di suatu kerajaan, sekarang sudah jarang kita jumpai, karena hampir tidak ada penerusnya. Cerita-cerita yang dipentaskan pada Lenong Denes antara lain : Indra Bangsawan, Danur Wulan, Jula-Juli Bintang Tujuh, dan cerita-cerita lain yang diambil dari Cerita 1001 Malam, misalnya kisah Abunawas. Karena Lenong denes memainkan cerita kerajaan, maka
- Busana yang digunakan oleh tokoh-tokoh pemerannya sangat gemerlapan, seperti peran raja, bangsawan, pangeran, putri, atau hulubalang. Akhirnya kata denes (dinas) jadi melekat pada cerita dan busana yang dipakai.
 - Bahasa yang digunakan dalam pementasan lenong denes bahasa adalah bahasa Melayu tinggi. Contoh kata-kata Melayu tinggi yang sering digunakan antara lain : baginda, tuanku, kakanda, adinda, daulat tuanku, beliau, syahdan, hamba dan lain sebagainya. Dialog dalam lenong denes sebagian besar dilakukan dengan nyanyian           
-Lenong denes biasanya dimainkan di atas panggung berukuran 5 x 7 meter.
-Penggunaan dekor atau seben untuk menyatakan susunan adegan-adegan. Misalnya ada dekor singgasana, taman sari, hutan, dan sebagainya.
-Musik pengiring teater lenong denes adalah gambang kromong. Dalam adegan perkelahian alat musik pengiringnya ditambah dengan tambur.

2. Lenong Preman
                     Pertunjukan lenong Preman lakonnya tentang rakyat jelata, seperti yang kita kenal sekarang, pada awalnya, Lenong Preman dimainkan semalam suntuk. Karena jaman berkembang dan tuntutan keadaan, maka terjadi perubahan-perubahan.
                     Teater tradisional Betawi yang lain diantaranya adalah  Topeng Betawi, Topeng Blantek dan Jipeng (Jinong).
  • Lenong menggunakan alat musik Gambang Kromong
  • Topeng Betawi menggunakan alat musik Tabuhan Topeng Akar
  • Topeng Blantek menggunakan alat musik Tabuhan Rebana Biang
  • Jipeng atau Jinong menggunakan alat musik Tanjidor
Bahasa yang digunakan pada pertunjukan Lenong adalah bahasa Betawi. Berdasarkan sejarahnya, Lenong mendapat pengaruh dari teater Bangsawan.
4.     Longser (Teater tradisional nusantara di Jawa Barat)
            Teater Longser berasal dari daerah Jawa Barat. Pengertian longser dapat kita lihat dari asal katanya, kata Longser berasal dari kata "melong" yang memiliki arti melihat dan "seredet" yang artinya tergugah. Secara umum Longser berarti  bahwa barang siapa yang melihat atau menonton pertunjukan tersebut, maka hatinya akan tergugah. Sama halnya dengan teater-teater tradisional yang lain, Longser dari Sunda ini juga bersifat hiburan yang sederhana, jenaka dan menghibur.
            Tontonan Longser dapat diselenggarakan di mana saja, karena tidak memerlukan dekorasi yang rumit. Penonton bisa menyaksikan Longser dengan posisi duduk melingkar.
 Berbicara tentang sejarah longser, puncak popularitas teater Longser berada pada tahun 1920 – 1960. Tokoh- tokohnya, antara lain; Ateng Japar, Bang Tawes, Tilil Bang, Bang Soang, dan lain-lain.

3. Ketoprak (Teater Tradisional di Jawa Tengah)
Ketoprak adalah teater rakyat yang paling populer, terutama di daerah Yogyakarta dan daerah Jawa Tengah. Namun di Jawa Timur pun dapat ditemukan ketoprak. Di daerah-daerah itu ketoprak adalah kesenian rakyat yang menyatu dalam kehidupan mereka dan mengalahkan kesenian rakyat lainnya seperti srandul dan emprak.
            Kata ‘kethoprak’ berasal dari nama alat yaitu Tiprak. Kata Tiprak ini bermula dari prak. Karena bunyi tiprak adalah prak, prak, prak
Kethoprak juga berasal dari kothekan atau gejogan. Alat bunyi-bunyian yang berupa lesung oleh pencipta kethoprak ditambah kendang dan seruling. Ketoprak adalah salah satu bentuk teater rakyat yang sangat memperhatikan bahasa yang digunakan. Dalam bahasa Jawa terdapat tingkat-tingkat bahasa yang digunakan, yaitu:
- Bahasa Jawa biasa (sehari-hari)
- Bahasa Jawa kromo (untuk yang lebih tinggi)
- Bahasa Jawa kromo inggil (yaitu untuk tingkat yang tertinggi)
            Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Kethoprak adalah seni pertunjukan teater atau drama yang sederhana yang meliputi unsur tradisi jawa, baik struktur lakon, dialog, busana rias, atau bunyi-bunyian musik tradisional yang dipertunjukan oleh rakyat.
          Ketoprak pertama kali dipentaskan sekitar tahun 1909. Awalnya teater ini disebut ketoprak lesung, tapi setelah musik gendang, terbang, suling, nyanyian dan lakon yang menggambarkan kehidupan rakyat di pedesaan dimasukkan sebagai unsurnya, maka lengkaplah Ketoprak sebagaimana yang kita kenal saat ini.
4. Ludruk (Teater tradisional nusantara Jawa Timur)
            Ludruk adalah teater yang bersifat kerakyatan yang berasal dari kota Jombang yang dikenal dengan kota santri. Ludruk menggunakan bahasa Jawa dialek Jawa Timuran. Sejalan dengan waktu, Ludruk kemudian menyebar ke daerah-daerah di sebelah barat, karesidenan Madiun, Kediri hingga ke Jawa Tengah. Pada teater Ludruk, semua perwatakan dimainkan oleh pria.
            Cerita yang dilakonkan mumnya  tentang sketsa kehidupan rakyat atau masyarakat, yang dibumbui dengan perjuangan melawan penindasan. Unsur parikan di dalam teater Ludruk pengaruhnya sangat besar.
5. Arja (Teater tradisional nusantara Bali)
Di Bali sangat banyak bentuk teater tradisional. Salah satu diantaranya adalah Arja. Arja juga merupakan teater tradisional Bali yang bersifat kerakyatan. Arja menekankan tontonannya pada tarian dan nyanyian. Pada awalnya tontonan Arja dimainkan oleh laki-laki, tapi pada perkembangannya lebih banyak dilakukan oleh pemain wanita, karena penekanannya pada tari. Arja umumnya mengambil lakon dari Gambuh yang bertolak dari cerita Gambuh. Namun pada perkembangannya dimainkan juga lakon dari Ramayana dan Mahabharata. Tokoh- tokoh yang muncul dalam Arja adalah Melung (Inye, Condong) pelayan wanita, Galuh atau Sari, Limbur atau Prameswari, Raja Putri, mantri dan lain sebagainya.
6. Kemidi Rudat (Teater tradisional nusantara NTT)
            Salah satu teater tradisional yang terkenal dari Nusa Tenggara Barat adalah Kemidi Rudat. Tontonan Kemidi Rudat hampir sama dengan tontonan di daerah-daerah lain. Bentuk tontonan Kemidi Rudat, pengajiannya dalam bentuk drama, yang dikombinasi dengan tarian dan nyanyian.
            Ada yang mengatakan Rudat asalnya dari kata Rodat, yang artinya baris-berbaris. Dari tontonan teater tradisional Kemidi Rudat, tampak pengaruh Bangsawan, yang dilatar-belakangi kebudayaan Melayu. Irama musiknya pun bernuansa Melayu. Dengan instrumen musik tambur, rebana, biola dan gamelan. Bahkan lakon-lakonnya pun bersumber dari cerita Melayu lama, sedangkan dialognya diucapkan dalam bahasa Melayu.
7. Kondobuleng (Teater tradisional nusantara Makasar)
            Kondobuleng adalah teater tradisional yang berasal dari Makassar (suku Bugis). Kondobuleng berasal dari kata kondo (bangau) dan buleng (putih). Sehingga kondobuleng artinya bangau putih. Tontonan Kondobuleng mempunyai makna simbolis. Sama seperti teater tradisional umumnya, tontonan Kondobuleng juga dimainkan secara spontan. Ceritanya simbolik, tentang manusia dan burung bangau yang dimainkan dengan gaya lelucon, banyolan yang dipadukan dengan gerak stilisasi. Yang unik dari tontonan ini adalah tidak adanya batas antara karakter pemain dengan properti yang berlangsung pada adegan tertentu. Mereka pelaku, tapi pada adegan yang sama mereka juga adalah perahu yang sedang mengarungi samudera. Tapi pada saat yang sama, mereka adalah juga penumpangnya.
8. Dulmuluk (Teater tradisional nusantara Palembang)
            Dulmuluk dikenal sebagai teater tradisional yang berasal dari Palembang, Sumatera Selatan. Nama dulmuluk diambil dari nama tokoh utama cerita yang terdapat dalam Hikayat Abdoel Moeloek. Teater tradisional Dulmuluk juga dikenal dengan sebutan Teater Indra Bangsawan. Tontonan Dulmuluk ini juga menggunakan sarana drama, tari, dan nyanyi sebagai bentuk penungkapannya, dan musik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tontonan, karena pemain-pemainnya juga menyanyikan dialog-dialognya. Humor dan banyolan sangat dominan dalam tontonan Lawakan, yang biasa disebut khadam, sering mengangkat dan menertawakan ironi kehidupan masyarakat sehari-hari  saat itu.
            Bentuk pementasan Dulmuluk hampir sama dengan lenong dari masyarakat Betawi di Jakarta. Akting di atas panggung dibawakan oleh pelakonnya secara spontan dan menghibur.Pertunjukan Dulmuluk mulai dikenal sejak awal abad ke-20. Sejak masa penjajahan Jepang tahun 1942, seni rakyat Dulmuluk berkembang menjadi teater tradisional yang dipentaskan dengan panggung. Saat itu kelompok teater Dulmuluk bermunculan karena digemari oleh masyarakat.
9. Randai (Teater tradisional nusantara Minangkabau)
            Teater Tradisional Randai berasal dari aerah Minangkabau, Sumatera Barat. Teater Randi bertolak dari sastra lisan yang disebut kaba (yang artinya “cerita”). Kaba yang berbentuk gurindam dan pantun didendangkan dengan iringan rabab, saluang, bansi dan rebana. Tontonan berlangsung dalam pola melingkar berdasarkan gerak-gerak tari yang bertolak darigerakan silat. Gerak-gerak silat ini disebut gelombang. Cerita-cerita yang digarap menjadi tontonan adalah cerita-cerita lisan berupa legenda dan dongeng yang populer di tengah masyarakat.

            Randai adalah tontonan yang menggabungkan musik, nyanyian tari, drama dan seni bela-diri silat. Secara Umum Randai dipertontonkan dalam rangka upacara adat atau festival.
10.Makyong (Teater tradisional nusantara Riau)
            Teater tradisional makyong berasal dari pulau Mantang di daerah Riau. Pada mulanya tontonan makyong berupa tarian dan nyanyian, tapi pada perkembangannya kemudian dimainkan cerita-cerita tentang legenda-legenda kerajaan dan rakyat. Makyong digemari oleh para bangsawan dan para sultan, sehingga sering dipertontonkan di istana-istana. Tontonan Makyong dimulai dengan upacara yang dipimpin oleh seorang panjak (pawang) agar semua yang terlibat dalam persembahan diberi keselamatan. Unsur humor, tari, nyanyi dan musik mendominasi tontonan Maknyong.
            Tidak seperti tontonan teater tradisional yang lain, yang pada umumnya dimainkan oleh laki-laki, pada tontonan Makyong yang mendominasi justru perempuan. Kalau pemain laki-laki muncul, mereka selalu memakai topeng, sementara pemain wanitanya tidak memakai topeng. Cerita lakon yang dimainkan berasal dari sastra lisan berupa dongeng dan legenda yang populer di masyarakat.
11.Mamanda (Teater tradisional nusantara Banjarmasin)
              Teater Tradisional Mamanda adalah teater yang berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tahun 1897, syahdan datanglah rombongan Bangsawan Malaka ke Banjar Masin, yang ceritanya bersumber dari syair Abdoel Moeloek. Meskipun masyarakat Banjar sudah mengenal wayang, topeng, Rudat, joget, Hadrah dan Japin, tapi rombongan Bangsawan ini mendapat tempat tersendiri di masyarakat.
              Dalam perkembangannya, nama Bangsawan merubah menjadi Badamuluk. Dan berkembang lagi menjadi Bamanda atau mamanda. Mamanda berarti “Paman yang terhormat”. Struktur dan perwatakan pada Mamanda sampai sekarang tidak berubah. kecuali tata busana, tata musik dan ekspresi artistiknya.







BAB 3
PENUTUP
3.1 Simpulan
Istilah teater ini berasal dari Yunani kuno theatron artinya gedung atau panggung tempat pertunjukkan aksian, perbuatan, gerakan, lakuan atau tindakkan. teater dalam arti luas merujuk kepada segala macam jenis tontonan yang dipertunjukkan di depan khalayak ramai. Teater tradisional adalah bentuk pertunjukan seni dimana pesertanya berasal dari daerah setempat karena terkondisi dengan adat istiadat setempat, sosial masyarakat dan struktur geografis masing-masing daerah. Termasuk dalam lingkup pengertian ini antara lain pertunjukkan japin cerita,konser musik, kuda gipang, longser, lenong, ludruk dan lain-lain. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar